sapi kurban kambing

Hukum Qurban dalam Islam Berdasar Empat Madzhab

Ibadah qurban merupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak keutamaan. Ibadah ini dilaksanakan ketika hari raya Idul Adha atau di tanggal 10 Dzulhijjah. Untuk pemilihan hewan yang akan diqurbankan sendiri bisa disesuaikan dengan kemampuan. Umumnya untuk Indonesia sendiri bisa biasa menggunakan kambing, domba atau sapi. Untuk kambing dan domba dihitung untuk qurbannya satu orang dan sapi adalah untuk 7 orang.

Qurban berasal dari bahasa Arab yaitu Al-Qurban yang bermakna mendekatkan diri. Di dalam ilmu fiqih sendiri, sudah tertera jelas dimana hewan qurban yang bisa disembelih adalah binatang ternak yang halal. Untuk waktu penyembelihan nya sendiri adalah ketika hari raya Idul Adha dan juga hari tasyrik yaitu di tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Syariat berkurban ini sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim AS yang dimulai dengan adanya mimpi untuk menyembelih sang putra kesayangan yaitu Nabi Ismail AS dimana Allah SWT sedang menguji ketaatan Nabi Ibrahim AS.

Setelah sang putra setuju untuk disembelih, maka Allah SWT dengan kebesarannya mengganti ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim tersebut dan menggantikannya dengan domba. Sejak saat itu, Allah SWT pun memerintahkan melalui Nabi Muhammad SAW untuk melanjutkan syariat yang ada setiap hari raya Idul Adha serta hari tasyriq. Hukum berqurban sendiri secara umum dan yang banyak dipakai di Indonesia adalah sunnah muakkad.

Pada dasarnya, dalam menentukan hukum qurban dalam Islam ini sendiri ada beberapa pendapat yang ada di kalangan ulama. Berikut ini ada ulasan singkat terkait hukum berqurban berdasarkan empat madzhab sehingga lebih jelas:

  1. Madzhab Syafi’i memiliki pendapat jika ibadah qurban hukumnya adalah sunnah muakkad yaitu sunnah yang diutamakan. Namun hukumnya berubah menjadi makruh bagi orang yang sebetulnya mampu tetapi tidak mau melaksanakan ibadah kurban ini.
  2. Madzhab Maliki pun berpendapat sama dengan madzhab Syafi’i dimana ibadah qurban hukumnya adalah sunnah muakkad yaitu sunnah yang diutamakan. Namun hukumnya berubah menjadi makruh bagi orang yang sebetulnya mampu tetapi tidak mau melaksanakan ibadah kurban ini.
  3. Madzhab Hanafi berpendapat jika hukum berqurban adalah wajib untuk dilakukan sekali setiap tahunnya. Pendapat ini pun memiliki dasar hukum yang jelas berdasarkan firman Allah SWT. Meski begitu, masih ada juga beberapa ulama dari madzhab Hanafi yang tidak sependapat dan menyatakan jika hukumnya adalah sunnah muakkad.
  4. Madzhab Hanbali juga menyatakan jika berqurban hukumnya wajib. Meski begitu, hukum ini bisa berubah menjadi sunnah jika dilakukan oleh orang yang kurang mampu.

Namun ulama dari semua madzhab sepakat jika hukum berqurban akan menjadi wajib jika sudah bernazar sehingga harus dilakukan baik dalam kondisi memiliki atau tidak memiliki uang karena sudah bernazar.